Miris Gara-Gara Cacing Bapak Ini Terancam 10 Tahun Penjara

GP Ansor: Siap Bela Hingga Tuntas

‪CIANJUR | PARSIAL.COM – Nasib malang nemimpa bapak dua anak ini, Didin (48) warga Kampung Rarahan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur terancam 10 tahun penjara, gara-gara mencari dan mengambil cacing untuk keperluan obat dikawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangarango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

‪Ela Nurhayati (41) istri korban merasa kecewa atas sikap Petugas PPNS Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bersikap represif kepada suami korban.

Kepada Parsial.com, Ela menceritakan proses penangkapan suaminya tersebut dilakukan pada saat malam hari, ketika suami korban dalam kondisi tertidur lelap.

“Secara etika, kurang tepat. Masa iya, penangkapan di lakukan pada saat malam hari. Emangnya, suami saya pelaku teroris atau bandar narkoba.? Apalagi, sebelum di lakukan penangkapan pun pihak keluarga tanpa terlebih dahulu di berikan surat penahanan. Tau-tau petugas datang, suami saya langsung ditahan,” ketusnya.

Sebelumnya, sambung Ela, Didin suami korban menerima telepon dari salah sesorang pemesan cacing sonari sebanyak 400 ekor dan satu ekor cacing sonari itu dihargai 4 ribu. Kemudian, suami korban pun menyanggupi pesanan tersebut. Tapi saat itu, suami korban hanya mampu mendapatkan 70 ekor dari 400 total pesanan. Kemudian pada esok harinya si pemesan itu pun datang dengan membawa rombongan. Ternyata, rombongan tersebut dari pihak Gakkum di Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Babhinkamtibmas.

“Ini kan seolah-olah suami saya benar-benar di jebak,” sesalnya.

‪Lanjut Ela, Didin dituding petugas telah melakukan pengrusakan hutan seluas 35 H, padahal suaminya mengambil cacing hanya di lereng Gunung Gede Pangrango, tidak sampai ke kedalaman hutan.‬

‪“Suami saya hanya mengambil cacing diwilayah kaki gunung, lagi pula bukan cacing kalung yang menjadi target melainkan cacing sonari yang berada di pohon kadaka (jenis pohon yang nempel di pohon lain) sehingga tidak harus menebang pohon, apalagi tudingan yang di tujukan ke suami saya itu sanggat tidak beralasan karena dituding telah merambah pohon seluas 35 hektar.

“Kan itu tidak masuk akal, apalagi suami saya hanya sendiri terlebih cacing tersebut pun hanya untuk kebutuhan warga sekitar,” keluhnya. ‬

‪Apalagi, suami korban tersebut kesehariannya berprofesi sebagai penjual jagung bakar di kawasan pasar Kebun Raya Cibodas.

“Jadi hal yang tidak mungkin, suami saya melakukan itu,” tegas Ela.

Adapun kebutuhan mencari cacing sambung Ela, hanya sebatas untuk membantu warga yang membutuhkan obat herbal yang berasal dari cacing sonari.‬

‪“Dampaknya, saat ini ekomomi keluarga saya lumpuh total karena suami sudah 46 hari mendekam menjadi tahanan titipan dari Petugas PPNS Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Polres Cianjur,” ujar Ela dengan mata berkaca-kaca.‬

‪Sementara di tempat terpisah, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur Adison mengatakan, perkara tersebut bukan masalah cacing. Namun permasalahannya kata dia, menyangkut dengan kerusakan hutan yang kondisinya sudah rusak parah hingga mencapai 35 Hektar.

Adison mengakui, sebelumnya TNGGP sudah melakukan monitoring, terdapat kurang lebih ada 60 orang yang melakukan pencarian cacing sonari di kawasan konservasi hutan, yang salah satunya adalah Didin.‬

‪”Didin itu salah seorang pengumpul cacing sonari dari beberapa pemburu cacing, di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Satu ekor cacing itu mereka jual RP40 ribu. Cacing tersebut akan di jual ke Negara Tiongkok untuk dijadikan obat herbal dan kecantikan. Para pencari cacing itu mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp6 juta dalam satu minggu,” versi Adison.

‪Ia mengakui, sudah memiliki barang bukti jika saja perkara ini dibawa ke meja hijau. Namun, saat ini Adison baru bisa memburu satu orang saja yaitu Didin.‬

‪”Silahkan saja kalau mau mencari cacing, hanya jangan dikawasan konservasi hutan, ini jelas merugikan hutan karena akan merusak ekosistem akibat penebangan dan perambahan. Jadi, Didin bisa dikenakan pasal 78 atas (5) dan atau ayat (12) jo Pasal 50 ayat (3) huruf R dan huruf M, Undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman hukuman sampai 10 tahun penjara ,” ucapnya.‬

‪Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur, Dedi Suherli mengatakan, seharusnya pihak TNGGP beserta jajarannya memberikan teguran terlebih dahulu, Dedi menduga persoalan ini tidak lain untuk menutipi kasus-kasus lain yang lebih besar yang melibatkan orang-orang dalam.

“Kami selaku anggota dewan akan memanggil pihak TNGGP untuk mengetahui keterangan lebih lanjut dari pihak TNGGP,” terangnya.‬

‪Dedi yang juga menjabat sebagai ketua GP Ansor Kabupaten Cianjur berjanji akan membentuk tim investigasi untuk mengusut persoalan ini dan persoalan lain yang berada di Internal BB TNGGP.‬

‪”Organisasi kepemudaan GP Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan beberapa ormas lain siap mengawal hingga tuntas kasus-kasus yang ada dikawasan hutan itu,” terangnya.

Reporter: Dedy
Editor: A.S. Nasution

loading...

COMMENTS