KH. Yusuf Tauziri Pahlawan Garut Cinta Agama dan Pembela NKRI

Yusuf Tauziri

KH. Yusuf Tauziri Pahlawan Garut

GARUT | PARSIAL.COM – KH. Yusuf Tauziri yang memiliki nama kecil Damiri ini terkenal nakal. Orang tuanya sudah beberapa kali memasukan ke pesantren akan tetapi ia lebih suka main bola dan pencak silat daripada menjadi seorang santri.

Namun, Damiri mulai muncul kesadaran untuk terlibat dalam koridor perjuangan agama sepulang menunaikan ibadah haji pada 1923. Ketika pulang namanya berubah menjadi Yusuf Tauziri. Lalu beliau pun lantas mendirikan Masjid serta Pondok Pesantren Darussalam di Wanaraja, Garut.

Selain aktif dalam kegiatan pendidikan Islam, KH Yusuf Tauziri juga memantapkan dirinya terlibat dalam perlawanan penjajahan. Pada zaman Jepang, Kiai Yusuf dijebloskan ke tahanan. Pejuang satu ini dituding melakukan sabotase terhadap kepentingan tentara Nippon.

KH. Yusuf Tauziri Pejuang Revolusi

Kiprahnya yang tidak kalah penting pada masa revolusi adalah terbentuknya Laskar Darussalam, berangkat dari pesantren yang ia dirikan. Menyusul kembalinya Belanda ke Tanah Air yang lantas menguasai Wanaraja, Yusuf bersama laskarnya hijrah ke utara Wanaraja, tepatnya di Pesantren Cipari, sebuah pesantren di sebelah utara Wanaraja. Dulu Cipari ini merupakan bagian dari Wanaraja, kemudian ada pemekaran kecamatan, Cipari menjadi wilayah di kecamatan Pangatikan.

Di sinilah beliau menyusun kembali laskarnya dan menjadikan Pesantren Cipari sebagai markas perlawanan terhadap penjajah. Ada cerita menarik di Pesantren Cipari ketika itu. Sebuah “ceritra rakyat” (folklore) yang dihimpun Panitia Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, UNESCO, mengisahkan patriotisme para santri dan kiyai Cipari. Disebutkan, th.1948, pasukan Belanda dari Cibatu, akan menyerang Cipari. Karena berita mendadak, dan hari Jum’at pula, penduduk dan para pejuang tidak sempat menghindar, mereka terkepung oleh pasukan bersenjata lengkap.

KH Anwar Musaddad dan KH Yusuf Tauziri, menyuruh laki-laki masuk masjid untuk bersiap melaksanakan salat Jum’at. Sebelum tiba waktu adzan, KH Anwar Musaddad memimpin pembacaan do’a “Hizib Bahri”. Setelah adzan, KH Yusuf Tauziri berkhotbah. Selama khotbah tidak ada seorangpun jamaah yang tertidur seperti biasanya.

Usai salat Jum’at, seorang penduduk melaporkan, tentara Belanda yang mengepung pesantren semua tertidur lelap. Bergelimpangan di pematang, jalan setapak, kebun, dan sebagainya. Mereka baru terbangun setelah hari menjelang senja. Pesantren Cipari telah sepi ditinggalkan penghuninya mengungsi ke tempat aman.

Kiai Nasionalis

Sejak masa pra-kemerdekaan KH Yusuf telah lama mengenal Kartosuwiryo di Sarikat Islam (SI). Persahabatan itu sudah terjalin sekitar 20 tahun. Kiai Yusuf mengenal Kartosoewirjo ketika menjadi anggota Dewan Sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 1931-1938. Peneliti Jepang, Hiroko Horikoshi, dari Cornell University, Amerika Serikat, menyebutkan hubungan mereka akrab. Yusuf pun menjadi salah seorang penasihat Kartosoewirjo.

Keluarga keduanya juga bahu-membahu dalam perjuangan melawan penjajah di Jawa Barat. Istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum, bergaul akrab dengan adik-adik perempuan Kiai Yusuf yang memimpin seksi wanita Gerakan Pemuda Islam Indonesia Garut.

Kepada Hiroko, Kiai Yusuf bercerita tentang perbedaan pendapatnya dengan Kartosoewirjo. Pada awal 1940, Kartosoewirjo mengusulkan lembaga Suffah dalam kongres Komite Pembela Kebenaran. Komite ini merupakan pecahan PSII yang memilih jalan nonkooperatif dengan Belanda.

Dalam kongres itu, Kartosoewirjo memperkenalkan konsep hijrah, sama pengertiannya dengan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Ia meminta setiap anggota menyumbangkan 2.500 kencring (2.500 sen atau 25 gulden) serta bergabung ke Suffah.

Berbeda dengan Kartosoewirjo, Kiai Yusuf berpendapat belum saatnya hijrah total. Alasannya, persiapan belum matang. Ia mengusulkan uang ditanamkan di bidang pertanian. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membantu pendidikan para calon ulama dan pemimpin. Kartosoewirjo lalu mendirikan lembaga Suffah pada Maret 1940.

Kiai Yusuf sebenarnya secara tak langsung masih mendukung Suffah. Pada awal pendiriannya, ia mengirimkan dua anak laki-laki sebagai pengajar. Ia pun memasukkan keponakannya sebagai pelajar.

Pada Februari 1948, Kartosoewirjo mengadakan konferensi Darul Islam (DI/NII) pertama di Cisayong, Tasikmalaya. Pertemuan itu membentuk struktur organisasi gerakan perlawanan, yang dipertegas dalam konferensi kedua di Cipeundeuy, Cirebon. Kartosoewirjo makin mematangkan gagasan negara Islam yang terpisah dari republik ini.

Kiai Yusuf dan pengikutnya menganggap gagasan mendirikan negara Islam dengan meninggalkan Republik terlalu jauh. Pesantren Darussalam dianggap melawan Imam Kartosoewirjo. Apalagi tempat ini selalu menjadi tempat berlindung penduduk yang tak mau memberikan hartanya kepada tentara Darul Islam (DI/NII).

Pesantren pun menjadi target. Pada 1949-1958, pasukan Darul Islam (DI/NII), menyerang Desa Cipari lebih dari 46 kali. Kartosoewirjo berniat menghabisi Kiai Yusuf sekeluarga serta pengikutnya dengan serangan besar-besaran pada 17 April 1952.

Dalam penyerbuan 17 April 1952 itu, empat pengawal pesantren dan tujuh penduduk Cipari tewas. Kiai Bustomi, kakak ipar Kiai Yusuf, juga menjadi korban. Ia ditembak ketika hendak berlindung di masjid. Serbuan ini menimbulkan kengerian penduduk Cipari. Mereka menemukan lusinan mayat di sawah dan empang ikan. Bahkan air kolam di sekitar pesantren pun berwarna kemerahan.

Peristiwa itu menghantui penduduk, terutama perempuan dan anak-anak. Mereka ketakutan setiap kali mendengar langkah kaki orang di luar rumah pada malam hari. Temuan mayat juga membuat banyak warga Cipari enggan bersawah. Mereka pun tak mau makan ikan. Selama dua tahun ikan hasil ternak warga tidak laku dijual. Namun, peristiwa pengepungan di Desa Cipari tersebut, tak membuyarkan Pesantren Darussalam.

Menjadi Bagian Sejarah TNI

Kecintaan kepada Republik Indonesia, justru membuat Laskar Darussalam memilih untuk memperkuat Barisan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), sebagai cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Itulah mengapa Kiai Yusuf Tauziri identik dengan Laskar Darussalam, tak dapat dipisahkan, bagai ikan dengan air. Dan mereka tak terpisahkan dengan keberadaan Tentara Nasional Indonesia.

Pada saat terjadi pemberontakan NII/DI, Darussalam yang memang dijadikan benteng pertahanan oleh TNI, menjadi sasaran penyerangan yang dilakukan oleh Kartosuwiryo dan kawan-kawan. Jejak berondongan peluru masih terekam jelas dan menjadi tapak sejarah akan lahirnya perjuangan mempertahankan Republik ini.

Nama Yusuf Tauziri pun jelas tertoreh di dalam sejarah TNI, khususnya Kodam Siliwangi, sebagai seorang tokoh pejuang yang berperan serta atas lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

Kiai Yusuf Tauziri wafat di Garut pada 1982. Makamnya di lingkungan Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, kampung halaman dan medan perjuangan sang Kiai.

loading...

COMMENTS