KH. Raden Alit Prawatasari Pahlawan Cianjur Yang Terlupakan

Lukisan KH. Raden Alit Prawatasari

PARSIAL.COM | – KH. Raden Alit Prawatasari lahir di Jampang (Cianjur Selatan). Meski namanya telah diabadikan menjadi nama lapang olahraga Joglo tapi sayang status asal usulnya masih menjadi perdebatan dikalangan warga Cianjur, apakah ia keturunan Dalem Cikundul Cianjur, keturunan Raja Panyalu, atau Keturunan Raja Jampang Manggung?

Maka sepertinya wajar tokoh yang sejaman dengan Bupati Cianjur Aria Wiratanu II ini juga bergelar Aria Salingsingan yang artinya tokoh yang identitasnya simpangsiur

Padahal, KH. Raden Prawatasari ketokohannya oleh Belanda dikelompokan dengan Pangeran Diponegoro dan Ki Bagus Rangin yang juga memberontak kepada penjajah Belanda. Para pahlawan ini oleh Penjajah Belanda dan pendukungnya di sebut “Karaman Van Java” yang artinya Pengacau dari Jawa. Sebab, bagi para pejabat daerah saat itu akan menjadi aib apabila anggota keluarganya berontak kepada Belanda, maka penggiat sejarah Prof. Drs. Yoseph Iskandar (alm) suatu ketika menarik kesimpulan bahwa sebenarnya KH. Raden Prawatasari adalah putera bungsu Dalem Cikundul, namun silsilahnya kemudian dihapus dari terah Dalem Cikundul karena pada saat itu dianggap aib akibat berontak kepada Belanda. Apalagi dalam Wawacan Jampang Manggung dikisahkan bahwa Dalem Cikundul pernah menikah dengan Dewi Amitri putri Patih kerajaan Jampang Manggung yang beribukota di sekitar gunung Jampang Manggung Cikalong Kulon. Kemungkinan Haji Prawatasari adalah putera Dalem Cikundul dari Dewi Amitri.

Terlepas dari itu, pada bulan Maret 1703, Haji Purwatasari terpanggil untuk mengusir Belanda karena saat itu rakyat Cianjur terkena beban tanam paksa pohon Tarum yang menjadi kebijakan Belanda yang menjajah Kabupaten Cianjur kala itu.

Haji Prawatasari memusatkan perlawanannya didaerah Jampang (Kemungkinan bukan Jampang Cianjur Selatan, akan tetapi gunung Jampang Manggung di Cikalong Kulon) ia didukung dengan 3000 santri. Pos-pos Belanda yang diserang semula hanya sekitar Cianjur dan Bogor, namun kemudian Prawatasari menyerang Jakarta, Sumedang dll.

Pasukan Belanda akhirnya panik, mereka mulai menyelidik dan curiga ada sejumlah pejabat daerah terlibat menyokong gerakan Prawatasari. Beberapa pejabat di Bogor ditangkap dan dibunuh dengan kejam , malah Letnan Tanujiwa (Ki Mastanu) tentara Belanda asli pribumi dibuang ke Afrika hingga gugurnya karena diketahui menyokong perjuangan Prawatasari.

Belanda kemudian memberi tengat waktu kepada para Bupati di tatar Sunda, apabila dalam waktu enam bulan tidak dapat menangkap Prawatasari mereka akan dianggap sekongkol dengan Prawatasari. Menghadapi kenyataan itu, Prawatasari akhirnya mengalihkan gerakannya ke Jawa Tengah, agar para Bupati Priangan tidak terkena imbas dari perjuangannya. Namun justru takdir menjemputnya di Jawa Tengah, di hutan Bagelen Prawatasari tertangkap, kemudian dihukum mati di Solo tanggal 12 Juli 1707.

Dengan demikian, sudah sepatutnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur turun tangan untuk menelusuri rekam jejak sang pahlawan asal Cianjur ini, guna menjawab kesimpangsiuran terkait asal usul Haji Prawatasari. Sebab “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

Editor: Anas
Sumber

loading...

COMMENTS