Kanada Tertarik Kerja Sama Vokasi Industri dan Kelistrikan di Indonesia

Vokasi Industri

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Peter MacArthur, baru-baru ini di Jakarta. Foto: Ist/Parsial.com.

JAKARTA | PARSIAL.COM –Kanada tertarik untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia di bidang pendidikan vokasi industri dan sektor kelistrikan.

“Kanada salah satu negara yang concern dalam menerapkan pendidikan vokasi industri, yang sejalan dengan upaya Kementerian Perindustrian dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang terampil sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini,” demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Peter MacArthur di Jakarta, baru-baru ini.

Menperin menjelaskan, pada tahap awal, Kanada akan membangun pusat pendidikan di kawasan industri, salah satunya di Bintan, Kepulauan Riau yang akan fokus mengembangkan sektor perawatan dan perbaikan pesawat atau industri maintenance, repair and overhaul (MRO).

“Industri MRO tengah berkembang pesat di Indonesia, sehingga membutuhkan banyak SDM yang siap pakai,” ujarnya.

Pendidikan vokasi khusus industri MRO ini akan membantu untuk memajukan sektor kedirgantaraan di Indonesia. Apalagi, industri MRO di dalam negeri baru mampu memenuhi 30 persen dari seluruh kebutuhan perawatan dan perbaikan pesawat di Indonesia.

Mengenai keinginan Kanada untuk berinvestasi dan menjalin kerja sama dengan perusahaan Indonesia di sektor kelistrikan, Airlangga menjelaskan, upaya tersebut akan mendorong proyek pembangunan tenaga listrik 35.000 megawatt yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.

“Mereka menyatakan sanggup untuk berkontribusi dengan kapasitas sebesar 2×300 megawatt yang berbasis bahan bakar batu bara dan tenaga surya,” tuturnya.

Hingga saat ini, Kanada merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dengan menempati peringkat ke-20 investor terbesar di dalam negeri. Pada tahun 2016, investasi Kanada di Indonesia mencapai USD 99,8 juta untuk 81 proyek. Kanada berpotensi menjadi entry point strategis bagi pengembangan ekspor Indonesia di kawasan Amerika, karena Kanada merupakan anggota North American Free Trade Agreement (NAFTA).

Ekspor utama yang terus dikembangkan Indonesia ke Kanada adalah produk karet dan tekstil. Untuk itu, Kemenperin meminta kerja sama fasilitasi pedagangan dan Mutual Recognition Arrangement di bidang standardisasi. Selain itu, Indonesia berharap kepada Kanada agar dapat membuka pasar domestiknya untuk produk andalan Indonesia, seperti karet, kertas, mebel, elektronik, alas kaki, kopi, dan teh.

Reporter: Erick
Editor: Anas

loading...

COMMENTS