Desa Cibiru Wetan, Desa Peduli TB Pertama di Jawa Barat

BANDUNG KAB | parsial.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung, dr.Achmad Kustijadi, M.Epid menyebutkan, untuk mengobati penderita TBC, mengawasi penggunaan obatnya hingga tuntas, perlu juga melibatkan masyarakat.

Program “Desa Peduli TB” dianggap Achmad menjadi salah satu media yang dianggap tepat untuk memasyarakatkan paradigma sehat. Program ini, sudah setahun lalu dicanangkan Bupati Bandung di Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi. Dalam program tersebut, ada upaya sinergitas dari pemerintah, desa dan masyarakat untuk ikut berperan aktif.

“Dan ini selaras dengan tujuan program nasional, yang tertuang dalam Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS). Pada program ini, masyarakat diajak untuk membudayakan hidup sehat dan mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan perilaku yang tidak sehat,”ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Cibiru Wetan, Asep Hasan Sadeli mengatakan Desa Cibiru Wetan menjadi pilot project Desa Peduli TB di Kabupaten Bandung, dan untuk yang pertama di Provinsi Jawa Barat.

Untuk mendukung program itu, pihaknya bersama TB Care Aisyiah, LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) dan tokoh masyarakat setempat sudah memberikan pembinaan dan pelatihan kepada 19 warga untuk dijadikan kader kesehatan yang tergabung dalam KAHARTOSS TB (Kader Harapan Temukan Obati Sampai Sembuh TB).

Tugas mereka diantaranya adalah menemukan suspek penderita, mengumpulkan dahaknya untuk kemudian ditindaklanjuti di Puskesmas. Merekapun harus menjadi PMO (Pengawas Menelan Obat) bagi penderita.

“Saat melaksanakan tugasnya, KAHARTOS TB ini dibina langsung oleh Puskesmas Cibiru Hilir dan dievaluasi setiap dua bulan sekali,” ungkap Asep Hasan.

Tugas lainnya adalah, memberikan informasi dan penyuluhan dasar kepada masyarakat tentang bagaimana pencegahan penularannya seperti penggunaan masker, menutup mulut dengan tisu atau saputangan saat bersin dan batuk.

“Atau pada saat bersin arahnya ditujukan ke lengan dalam, informasi dasar inilah yang perlu diketahui masyarakat” ucapnya.

Sementara, Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Desa Cibiru Wetan, Hadian Supriatna SP, mengatakan ketika menyisir penderita, dibutuhkan pendekatan-pendekatan khusus.

“Pola Ketuk Pintu dengan cara mendatangi tiap rumah, menjadi pilihan Kami dalam bertindak. Saat berinteraksi, para kader harus peka dan memahami perasaan sang penderita sehinga Ia merasa nyaman,” ucapnya.

Dari program ini, menurut Hadian ada hasil yang cukup signifikan. Data Puskesmas Cibiru Hilir menunjukan perbandingan jumlah penemuan suspek TBc sebelum dan sesudah pelatihan.

Pemeriksaan dahak pasen suspek yang diduga TB pada tahun 2015 sebanyak 48 orang, setelah adanya kader TBc ini, di tahun 2016 terjadi peningkatan penemuan para penderita TB berjumlah 85 orang.

“Sedangkan jumlah pasen yang dahaknya mengandung kuman TB BTA (+) pada tahun 2015 sebanyak 5 (lima) orang, setelah ada kader di tahun 2016 menjadi 11 orang, kemudian diobati dan sembuh hingga sekarang,” ungkapnya pula.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja para kader ini, Hadian menyebutkan bagi kader yang bisa mengumpulkan paling banyak para penderita dalam satu semester, akan mendapatkan reward.

“Reward tersebut diberikan dalam bentuk sejumlah uang yang diharapkan dapat menambah motivasi dan pemicu semangat kerja para kader,” tuturnya pula.
Editor: Anas

loading...

COMMENTS