Pemerintah Akhiri Kekerasan Terhadap Guru, Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 10 Tahun 2017

Pemred Parsial.com, Adam Saleh Nst

JAKARTA, (Parsial.com) – Pemerintah akhirnya turun tanggan untuk menyelesaikan kasus kekerasan yang menimpa kaum guru melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 10 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Bagi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.

Sebab, berdasarkan catatan Parsial.com dari berbagai sumber, guru dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” ini sudah mengalami kekerasan atau penganiayaan pisik yang dilakukan murid dan orang tua murid sedikitnya lima kali terjadi sejak tahun 2003 hingga 2016 diantaranya:

1. Guru Dipidanakan Karena Mencubit Muridnya

Kasus ini terjadi pada tanggal 28 Juni 2016, dimana seorang guru Matematika bernama Muhammad Samhudi yang mengajar di SMP Raden Rahmat Bolongbendo. Ia dipidanakan orang tua murid karena guru tersebut telah mencubit muridnya bernama Arif. Padahal, sang guru mencubit anak didiknya itu bukan tanpa alasan. Sebab, murid tersebut diketahui tidak mau mengikuti shalat berjemaah di sekolah, malah sang murid itu asik-asikan nongkrong di pinggir sungai.

Arif yang diketahui sebagai anak seorang anggota tentara, langsung mengadu pada orang tuanya. Tak terima anaknya dicubit, sang ayah lalu melaporkan guru tersebut ke pihak kepolisian. Singkatnya, Muhammad Samhudi menjalani persidangan karena kasus tersebut.

2. Guru Pingsan Akibat Dikeroyok Keluarga Karena Pulangkan Siswa Dari Sekolah

Warsito (43), guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Desa SP3 Temuansari Kecamatan Muarakelingi dikeroyok oleh dua kakak beradik, Suwandi (24) dan kakaknya Suhardi (30). Pengeroyokan tersebut terjadi Sabtu, 5 Maret 2016, sekitar pukul 08.00 WIB itu dipicu karena keponakan pelaku, Harza (7), siswa kelas I disuruh pulang oleh gurunya, karena berkelahi dengan teman sekolahnya.

Aksi pengeroyokan berawal ketika kedua‎ pelaku yang hendak pergi ke kebun melihat keponakannya menangis. Di hadapan kedua pamannya itu, Harza yang masih kelas 1 mengadu telah disuruh pulang ‎oleh guru kelasnya, Warsito. Melihat keponakannya pulang sambil menangis, akibat diusir oleh guru kelasnya, Suwandi dan Suhardi langsung mendatangi sekolah. Sesampainya di sekolah, Suwandi langsung memukul kepala dan wajah Warsito, berulang kali. Melihat adiknya memukul sang guru, Suwandi pun ikut memukul wajah dan kepala korban hingga pingsan.

3. Guru Dikeroyok Keluarga Siswa

Kejadian ini terjadi di Bandar Lampung pada 2003 silam. Seorang guru honorer bernama Suhardi alias Dedi memukul siswa bernama Robby dengan penggaris. Robby dipukul penggaris lantaran sangat ribut di kelas. Awalnya, Suhardi telah menegur namun Robby mengabaikan. Suhardi lalu memukulnya dengan menggunakan penggaris.

Tindakan Suhardi ini tak diterima keluarga korban. Beberapa waktu setelah kejadian, sebanyak tujuh orang mencegat Suhardi, yang baru saja keluar dari sekolah. Ketujuh pemuda itu sontak memukuli Suhardi. Sebelum menghakimi Suhardi, seorang di antara pengeroyok yang mengaku kakak Robby menyatakan kasus ini adalah balas dendam atas perbuatan Suhardi yang menghakimi Robby.

4. Ibu Guru Alami Patah Tulang Hidung Karena Ditinju Siswanya

Seorang guru harus menderita patah tulang setelah ditinju siswanya sendiri yang tak terima setelah ditegur lantaran berbuat kesalahan di ruang kelas tepatnya di SMP Negeri 3 Kerkap di Desa Tanjung Putus, Kecamatan Kerkap, Kabupaten Bengkulu Utara.

Peristiwa perlawanan murid kepada gurunya itu terjadi tepatnya pada Jumat 22 Juli 2016 di ruang kelas VII sekitar Pukul 09.55 WIB. Saat itu, sang guru honorer, Osi Wulandari (24) tengah melaksanakan tugasnya mengajar. Salah satu pelajar yang merupakan pelaku AD (16) terlihat tidak duduk dengan semestinya. Pelajar ini malah duduk di atas mejanya. Sang guru pun menegur pelaku. Tak disangka-sangka, bukannya menurut dan duduk dengan semestinya, yang terjadi justru pelajar ini malah melawan. Sang murid lalu menggunakan tangan kanannya memukul bagian muka sang guru hingga menyebabkan tulang hidung sang ibu guru patah.

5. Guru Alami Luka Pada Mata Karena Dipukul Siswanya

Peristiwa ini terjadi pada 2015 lalu di Sukabumi, Agung Aditya Putra, salah satu guru honorer di SMA mendapati salah satu muridnya membolos di jam pelajaran.

Agung menegur muridnya karena tidak masuk kelas pada jam pelajarannya. Setelah dicari ternyata pelajar itu sedang tiduran di ruang Pramuka. Namun pelajar ini langsung menantang sang guru. Karena tersinggung dengan ucapan anak didiknya itu, maka Agung menegurnya kembali dengan sindiran agar tidak masuk kelas. Karena tersulut emosi, pelajar itu langsung memukul dan menganiaya gurunya. Akibatnya, kacamata yang dikenakan guru honorer ini pecah dan serpihan kacanya melukai pelipis korban dan terpaksa menjalani perawatan dengan 10 jahitan

Publik berharap melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 10 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Bagi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan ini mampu menjawab semua persoalan atas kasus kekerasan yang menimpa nasib guru selama ini. Sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

Penulis: Adam Saleh Nst

Pemred Parsial.com

 

loading...

COMMENTS