Tradisi “Nagbungabng” di Cimande Genap Dua Abad

Tradisi ziarah “Ngabungbang” di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (12/12). (Fhoto: Dok/Parsial.com).

KABUPATEN BOGOR, (Parsial.com) – Setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selalu dipadati peziarah yang datang dari berbagai pelosok nusantara.

Sebab, menurut beberapa sumber yang dihimpun Parsial.com di lokasi mengungkapkan, tradisi ziarah atau disebut “Ngabungbang” ini merupakan tradisi krearifan masyarakat lokal yang sudah berlangsung sekitar dua abad yang lalu.‬

‪”Ritual Ziarah “Ngabungbang” ini merupakan warisan budaya leluhur dari Kesepuhan Cimande yang secara terus menurus dilaksanakan. Dan pada tahun ini sudah genap dua abad,” demikian di ungkapkan kesepuhan Cimande Engkos disela acara tersebut, Senin (12/12) malam.

Lanjut dia, ritual ziarah tersebut dilaksanakan selama dua hari yaitu tanggal 14 dan 15 setiap bulan Maulid.

“Dahulu kala, setiap tanggal 14 sampai 15 bulan Maulid ritual ziarah “Ngabungbang” ini dimanfaatkan para guru padepokan Pencak Silat di Cimande sebagai moment untuk mematangkan tingkatan ilmu para murid di padepokan.‬ Dan alhamdulillah, ritual ini masih terus dilaksanakan dan dilestarikan oleh para keturunan Cimande,” sebut Engkos.

‪Namun seiring berjalannya waktu, ritual tersebut banyak juga diminati masyarakat dari luar Bogor. Bahkan kata dia, hari ini ribuan peziarah sudah nampak memadati beberapa lokasi pemakaman kesepuhan Cimande. Diantaranya, makam Kesepuhan Eyang Sarean Kertasinga di Kampung Cikodok di pertigaan kantor Desa Lemah Duhur, makam Mbah Ace dan Mbah Abdul Somad di Tarikolot, Mbah Rangga Wulung Tarikolot,  Mbah Angguh dan beberapa makam kasepuhan lainnya.‬

“Peryaan ini mendapat tempat dimasyarakat luas. Kalau dulu hanya dirayakan masyarakat Cimande, sekarang dari luar juga sudah banyak yang datang. Dan itu dibuktikan dari ribuan peziarah yang datang dari berbagai daerah. Sampai-sampai kendaraan saja tidak bisa lewat,” ujarnya.‬

‪Diakui dia, ritual “Ngabungbang” merupakan waktu yang tepat untuk memandikan berbagai jenis benda pusaka peninggalan leluhur, tapi hal itu bagi  masyarakat yang meyakini saja.‬

Reporter: Alimin/Samsyudin
Editor: Adam Saleh

loading...

COMMENTS