Pakar Hukum: 10 Aktivis yang Ditangkap Polda Metro Jaya Belum Bisa Dikategorikan Makar

Aktivis, Sri Bintang Pamungkas.

JAKARTA, (Parsial.com) – Pakar hukum pidana Universitas Indonesia Chudry Sitompul berpendapat 10 aktivis yang ditangkap Polda Metro Jaya belum bisa kategorikan makar. Sebab, menurut dia, perbuatan bisa disebut makar jika ada perbuatan persiapan.

“Saya kira mereka belum memenuhi syarat itu karena belum ada perbuatan permulaan,” kata dia, dilansir dari Tempo, Jumat (2/12).

Sambung dia, makar merupakan tindakan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Disebut makar jika dalam proses pemakzulan itu menggunakan kekerasan fisik atau senjata.

Ia mencontohkan makar adalah seperti gerakan Aceh Merdeka dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pada dua kelompok itu sangat jelas bahwa mereka ingin lepas dari Indonesia dan menggunakan senjata.

Tindakan ingin lepas dari Indonesia atau ingin menurunkan Presiden tak bisa disebut makar jika melalui proses hukum yang sesuai mekanisme.

“Demokrasi misalnya melalui mekanisme hukum, kalau sekarang dengar pendapat di DPR, MK. Kalau tidak melalui proses itu dianggap makar,” ujar Chudry.

Dini hari tadi Polda Metro Jaya menangkap sejumlah aktivis yang diduga melakukan makar, diantaranya Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rachamawati Soekarno Putri, Kivlan Zein, dan Ahmad Dhani. Mereka kini sedang diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua.

Chudry mengataka polisi harus membuktikan bahwa para aktivis itu sudah melakukan persiapan untuk makar.

“Ribuan orang dengan tangan kosong meminta presiden turun apakah itu sudah kita katakan bisa menggulingkan? Itu kan bisa ditindak saja sama polisi,” katanya.

Menurut Chudry, jika para aktivis itu terbukti makar, mereka terancam disangka melanggar Pasal 107 atau Pasal 108 KUH Pidana. Hukuman pidana yang mengancam adalah maksimal 20 tahun penjara.

Editor: Adam Saleh

loading...

COMMENTS