Pilgub DKI 2017 Bakal Diramaikan Tokoh Nasional

Foto: fokusjabar

JAKARTA (Parsial.com) – Jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI yang akan digelar 2017 mendatang rupanya akan diramaikan dengan beberapa tokoh nasional. Diantaranya Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga S Uno yang dinilai sebagai pasangan ideal untuk melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka akan menjadi penantang berat Basuki sebagai petahana (incumbent) pada Pemilihan Gubernur DKI (Pilgub) 2017.

Demikian kumpulan pendapat yang dikemuka­kan pengamat politik Uni­versitas Indonesia (UI) Arbi Sanit, pakar hukum tata negara Margarito Kamis, pengamat politik dari IndoStrategi Pangi Sarwi Chaniago, pengamat politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang Joko Prihatmoko, Ketua Lembaga Konstitusi dan Demokrasi (KoDe) Inisiatif Veri Junaidi, di Jakarta, kemarin.

”Kalau sampai bertarung satu lawan satu atau hanya ada dua pasangan, ini sangat menarik karena akan muncul dua pasangan calon yang sama-sama kuat,” ujar Arbi Sanit, seperti yang dilansir dari suarakarya.id, Jumat (4/3).

Menurut dia, yang dimaksud berimbang adalah bisa sama-sama kuat karakter ma­sing-masing calonnya, atau sama-sama kuat partai, ”mesin” atau kendaraan politiknya.

”Saya rasa jika Yusril berpasangan dengan Sandiaga adalah ideal sebagai penantang berat Ahok yang masih mencari-cari pasangan,” katanya.

Margarito Kamis mem­pre­diksi, tokoh yang paling kuat melawan Ahok adalah Yusril. Dia menilai, Yusril merupa­kan tokoh ternama, bukan saja seorang ilmu­wan. Bah­kan, dia pernah mencalon­kan diri menjadi kandidat wa­kil presiden meski dengan karier politiknya dia mengundurkan diri.

”Yusril ini tokoh nasio­nal, bahkan internasional. Dia memiliki kapasitas yang memiliki daya tarik dan, saya kira, dia tokoh yang diterima banyak kalangan. Yusril akan menjadi lawan kuat Ahok,” katanya.

Meski demikian, Margarito berharap agar Ahok tidak terlalu fokus menanggapi kemunculan tokoh-tokoh ternama saat ini, yang menjadi pesaingnya nanti. Menurut dia, apa yang dilakukan Ahok sebagai gubernur saat ini sudah merupakan langkah-langkah politis.

”Ahok saya lihat juga sudah mengambil langkah. Satu contohnya adanya dukungan pengumpulan KTP. Ahok sebaiknya fokus terhadap program-programnya dan pastikan kerja sa­ma­nya dengan para aparatur pemerintahan,” ujarnya.

Veri Junaidi mengatakan, saat ini popularitas dan elektabilitas Ahok belum bisa ditandingi kandidat lain. Dalam kondisi normal akan sulit melawan Ahok, siapa pun yang akan maju. Apalagi melawan petahana, kandidat yang maju sangat banyak. Sebab, jika kandidat yang bertarung jamak, maka suara akan pecah.

”Pilihannya head to head. Head to head pun sulit dengan popularitasnya sekarang. Tapi, sangat mungkin kalau kemudian muncul calon tunggal, pilih­an orang kan Ahok atau tidak. Mungkin bisa saja Ahok terjungkal. Dan, penantang berat kemungkinan memang Yusril,” ucap Veri.

Pilihan bagi partai politik, menurut dia, apakah harus merapat mendukung Ahok atau harus memun­culkan calon baru.

Menurut Veri, parpol yang tidak memiliki keterikatan sejarah dengan Ahok soal konflik sangat mungkin melakukan hitungan rasional jika ingin memunculkan calon baru untuk melawan Ahok. ”Mungkin saja mereka akan bergabung atau mengusung bersama-sama Ahok di pilkada kali ini,” ujarnya.

Namun, partai seperti Gerindra yang memiliki sejarah cukup panjang dengan Ahok dinilai sulit bergabung dengan Ahok. Mau tidak mau, menurut dia, mereka tetap mengusung calon untuk melawan Ahok.

”Nah, kalau misalnya ada pertanyaan siapa yang kemudian bisa menandingi Ahok, kalau saya bilang, agak sulit jika lawannya itu orang lain. Namun, di dalam politik juga sangat mungkin kalau ada blunder yang dimunculkan oleh Ahok, kemudian muncul kandidat yang lebih populer,” tutur Veri.

Joko Prihatmoko mengatakan, ada agenda tersembu­nyi di balik pernyataan Ahok bahwa Yusril adalah penantang beratnya. ”Itu omongan politisi. Kita tidak tahu, itu bagian dari strategi kampanye atau tidak,” ujarnya.

Pernyataan itu bisa saja dijadikan dasar bagi partai untuk mengambil keputusan untuk mendukung Yusril. Padahal, menurut Joko, Yusril kurang dalam hal aksesibilitas. Maka hal ini bisa membuat jalan Ahok menuju kursi DKI-1 lebih lancar. ”Kita tidak tahu, omongan politisi biasanya kan bersayap,” katanya.

Pendapat berbeda disampaikan Pangi Sarwi Chaniago. ”Selain Ridwan Kamil, saya tutup mata. Saya prediksi, kalau Ridwan Kamil lawan Ahok, Ridwan Kamil menang walaupun tipis,” kata Pangi. Bagaimana dengan Yusril? Ia menilai, Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) yang juga pakar hukum tata negara itu berat mengalahkan Ahok.

Menurut dia, Yusril tidak punya pengalaman sebagai kepala daerah. Prestasi Yusril yang mau dijual ke publik juga sulit. Tidak tampak oleh publik. ”Yusril menguasai persoalan fundamental hukum. Namun, di pemerintahan daerah belum teruji. Walau Yusril pernah jadi Mensesneg, namun itu tidak cukup. Masyarakat Jakarta belum melihat nilai jual Yusril,” ucap Pangi.

Ia menambahkan, apalagi sosok Adhyaksa Dault dan Sandiaga Uno, belum sekelas Ahok untuk bertarung di Pilgub DKI. ”Adhyaksa Dault baru teruji di bidang olahraga. Sandiaga Uno, masyarakat Jakarta baru tahu bahwa ia pengusaha sukses. Baru memulai kampanye memperkenalkan diri ke publik. Sementara Ahok hampir lima tahun kampanye politik,” ujar Pangi.

Yusril sendiri memang telah bertekad untuk head to head melawan Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017. Mantan Menteri Sekretaris Negara itu pun sudah melirik bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya.

Ada dua nama yang dia inginkan sebagai cawagub, yakni Sandiaga Salahudin Uno dan Boy Sadikin. ”Sudah ada beberapa nama yang disebut, Pak Sandiaga Uno, Pak Boy Sadikin juga. Paling mungkin, saya maju dengan Sandiaga Uno atau Boy Sadikin,” kata Yusril kepada wartawan di Kantor Ihza & Ihza Law Firm, Jakarta, Kamis (25/2).

Red: Adhi

loading...

COMMENTS