Konflik Timur Tengah Kesampingkan Isu Kemerdekaan Palestina

JAKARTA (Parsial.com) – Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, mengatakan bahwa isu konflik di Timur Tengah memicu isu-isu penting soal perjuangan kemerdekaan Palestina dilupakan masyarakat dunia, jelang berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) Organisasi Kerja sama Islam (OKI).

“Konflik di Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti Arab Spring ini menyedot energi politik dan ekonomi yang sangat besar. Perhatian terhadap isu Palestina pun semakin terpinggirkan,” ujarnya di Jakarta, demikian antara mengabarkan.

Dia mengatakan, dengan beralihnya perhatian negara Islam dan dunia terhadap Palestina membuat Israel dapat meneruskan agresivitasnya untuk melanjutkan program menguasai Palestina sejengkal demi sejengkal.

Beberapa indikasinya adalah Israel terus meneruskan pembangunan pemukiman baru di tanah Palestina. Israel juga semakin berani mengklaim masjid Al Aqsha sebagai wilayah suci yang berhak dimasuki warga Yahudi.

Mahfudz Siddiq mengatakan, gelombang musim semi di Arab (Arab Spring) memicu gelombang politik antara kekuatan baru dengan kekuatan lama. Celakanya, kekuatan-kekuatan politik baru pada Arab Spring dipandang lebih dekat dengan kekuatan politik garis keras di Palestina.

Sentimen negatif, menurut politisi Partai eadilan Sejahtera (PKS) itu, menjalar juga ke Palestina. Saat ini gerakan kontra Arab Spring kembali berkuasa.

Imbasnya,  dinilainya, sikap politik mereka terhadap Palestina juga nampak melemah.

Selain Arab Spring, dikemukakan Mahfudz, terjadi juga konflik kelompok bersenjata ISIS di kawasan Timur Tengah.

Berbagai daya dan upaya menjadi tersedot untuk ISIS. Hal ini belum ditambah dengan konflik sektarian Sunni-Syiah yang juga berdampak besar atas terlupakannya Palestina.

“Suriah, misalnya, yang sejak lama bersama Iran mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, sekarang menarik diri,” ujarnya, Sabtu (5/3).

Ia menimpali. “Alasannya karena kekuatan politik di Palestina tidak mendukung rezim Bashar Assad, malah cenderung meninggalkannya. Biaya konflik dan perang yang ditanggung negara Timur Tengah dan sekitarnya mengakibatkan bantuan keuangan kepada Palestina nyaris berhenti total.”

Secara internal, Mahfudz mengatakan, dunia Islam menghadapi tantangan dan ancaman baru sebagai pekerjaan rumah domestiknya. Penurunan laju ekonomi dan masalah terorisme membuat banyak negara Muslim fokus ke dalam dan mengalihkan perhatian dari isu Palestina.

Sementara dari sisi eksternal, menurut dia, negara-negara di kawasan Eropa maupun Amerika Serikat (AS) juga memiliki persoalannya besarnya sendiri. Selain persoalan ekonomi dan politik dalam negerinya, konflik di kawasan Timur Tengah juga memiliki dampak terhadap negara-negara di kawasan tersebut.

Atas beberapa persoalan di atas, Mahfudz berharap, KTT LB OKI dapat mengkonsolidasi kembali perhatian dan dukungan negara-negara anggota OKI terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

OKI juga harus mampu meletakkan peta jalan baru menuju Palestina yang merdeka.

“Indonesia, sesuai visi Presiden Joko Widodo, untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina sangat tepat untuk mengambil inisiatif, bahkan menjadi motor dari gerakan OKI ini,” demikian Mahfudz Siddiq. (Lan/ant).

loading...

COMMENTS