Calon Independen Merusak Sistem Pemerintahan

Ilustrasi

JAKARTA (Parsial.com) – Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang berpendapat, kehadiran calon perseorangan dalam pilkada justru merusak sistem dan tata pemerintahan.

”Jalur indenpenden juga menciptakan polarisasi dan dikotomi yang akan mengaburkan asas demokrasi itu sendiri,” kata Ahmad Atang di Kupang, Rabu (23/3), terkait wacana perberat syarat calon perseorangan.

Dia mengatakan, dengan memperketat syarat pada calon perseorangan memberi isyarat kalau jalur independen sama sulitnya dengan jalur partai, sehingga tidak ada yang merasa memilih jalur lebih mudah dan yang lain merasa memilih jalur lebih sulit dalam meraih kekuasaan.

Menurut dia, kebijakan ini harus dilakukan untuk mengembalikan roh politik pada partai politik.

”Saya sepakat kalau syarat calon perseorangan diperketat. Ini bukan sebagai upaya memasung hak politik publik, akan tetapi untuk mengembalikan roh politik pada parpol adalah sebuah keharusan,” katanya.

Dia menjelaskan, calon idependen merupakan kebijakan politik afirmatif karena partai politik dianggap belum berfungsi secara baik dalam melakukan rekruitmen politik. Banyak kader potensial yang mau menduduki jabatan politik namun tidak bisa karena partai tidak memberi ruang. Selain itu, biaya politik yag mahal sehingga mereka berada di luar kekuasaan.

Atas dasar itu, maka calon perorangan diberi ruang bagi mereka yang ingin meraih jabatan politik melalu jalur nonpartai.

Kebijakan ini tidak berarti meniadakan peran parpol, partai tetap penting dalam membangun demokrasi sehingga semakin hari peran partai harus diperkuat.

Partai politik kata dia, merupakan institusi politik tidak harus diperlemah dengan adanya calon independen. Justru mekanisme rekruitmen politik dalam menjaring pemimpin harus melalui parpol.

”Tidak ada demokrasi tanpa pemilu dan tidak ada pemilu tanpa partai politik. Maka dengan memperketat syarat pada calon perseorangan memberi isyarat kalau jalur idependen sama sulitnya dengan jalur partai,” katanya.

Sehingga tidak ada yang merasa memilih jalur lebih mudah dan yang lain merasa memilih jalur lebih sulit dalam meraih kekuasaan. Demikian Sarakarya memberitakan.

”Jabatan politik yang diraih melalui jalur independen tidak lebih hebat dan sukses dalam memimpin dibanding melalui parpol, begitu juga sebaliknya. Karena itu bagi saya, jalur independen justru merusak sistem dan tata pemerintahan kita. Jalur idenpenden akan menciptakan polarisasi dan dikotomi yang akan mengaburkan asas demokrasi itu sendiri,” kata Pembantu Rektor I UMK itu.

Secara terpisah, Direktur Survei Lintas Nusantara Emrus Sihombing mengatakan wacana terkait peningkatan syarat calon perseorangan dalam revisi UU Pilkada harus memperhatikan pembangunan demokrasi.

Menurut Emrus di Jakarta, Rabu, terdapat dua hal yang perlu disikapi publik, terhadap wacana peningkatan syarat calon perseorangan tersebut. Pertama, bisa saja hal itu bertujuan mempersulit calon perseorangan karena dianggap sebagai ancaman bagi partai politik yang mengusung calon.

”Padahal sebenarnya munculnya calon perseorangan harus dilihat sebagai motivasi bagi partai untuk instropeksi berbenah diri agar kebijakan, program partai dan calon yang diusung berbasis kepada kehendak dan kebutuhan rakyat,” katanya.

Kedua, bisa juga hal sebaliknya, peningkatan syarat tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas calon perseorangan karena semakin tinggi jumlah dukungan akan mendorong calon perseorangan berupaya keras meningkatkan kualitas dirinya dalam berkarya di tengah-tengah masyarakat.

Terlepas dari itu semua , menurut dia, harus diakui pula bahwa pilar utama demokrasi adalah adanya partai.

”Tidak terbayang oleh saya betapa kacauanya suatu negara atau hampir dapat dipastikan, akan terjadi konflik sosial yang luar biasa dan sulit dibendung dalam persaingan perebutan kekuasaan. Akibatnya negara akan melahirkan pemimpin otoriter yang bertolak belakang dengan nilai demokrasi,” katanya.

Untuk itu, menurut dia, calon perseorangan dan partai harus berpijak pada demokrasi substansial dengan tetap menjaga eksistensi parpol.

Editor: Adam
Sumber: SK

loading...

COMMENTS