Pengamat: Merapatnya Golkar ke Jokowi Berpengaruh pada Posisi KIH

JAKARTA (Parsial.com)-Dukungan Partai Golkar kepada pemerintahan Joko Widodo yang dinyatakan secara resmi dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar dinilai akan membuat barisan pendukung partai politik di Koalisi Indonesia Hebat (KIH) akan salah tingkah. Sebab, dukungan tersebut dinilai tak serta merta membuat haluan politik partai berlambang beringin tersebut akan selalu sejalan dengan pemerintah.

”Secara normatif sah-sah saja Golkar mendukung pemerintah. Tapi berkaca pada pengalaman ketika Golkar berada dalam koalisi (Presiden) SBY, Golkar juga bisa tetap kritis dan melakukan berbagai manuver politik,” kata Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Philips J Vermonte, di Jakarta, Kamis (28/1).

Partai Golkar, menurut Philips, adalah partai kaya pengalaman dengan kader-kader yang juga sangat lihai sehingga tahu betul kapan harus sejalan dengan pemerintah dan kapan harus bersikap sebaliknya.

Philips juga menilai wajar sikap Golkar merapat ke pemerintahan yang sah. ”Ini wajar. Golkar seumur hidupnya tidak pernah berada dalam posisi oposisi sehingga menyulitkan bagi mereka untuk berada di luar pemerintah,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan bahwa Partai Golkar akan tetap kritis kepada pemerintah meskipun telah menyatakan dukungannya kepada pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Menurut Aburizal Bakrie (ARB), sikap kritis tersebut bukti bahwa partai berlogo pohon beringin ini adalah sahabat sejati. Sebagai sahabat yang baik, kata ARB, Partai Golkar tidak akan membiarkan pemerintah jika langkahnya salah.

”Masa tidak boleh kritik. Pak JK bilang, Jokowi harus dikritik. Kalau tidak dikritik, (pemerintah) tidak sehat. Itu untuk menyelamatkan (pemerintah),” kata ARB.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf mengatakan, bergabungnya Partai Golkar ke pemerintahan Jokowi – JK bakal membuat galau atau salah tingkah partai-partai pendukung Jokowi yang tergabung dalam KIH (Koalisi Indonesia Hebat).

Menurut guru besar ilmu politik Universitas Katolik Parahiyangan ini, masuknya Partai Golkar ke dalam pemerintahan membuat posisi partai-partai pendukung Jokowi terancam dan tidak nyaman.

”Sebab, kader-kader Golkar memiliki kualitas di atas para politisi yang lain. Pastinya mereka galau, karena posisi mereka kan terancam. Yang sekarang kursi menteri 3, dengan masuknya Golkar bisa berkurang. Makanya, kalau saya sarankan sebaiknya Golkar tidak usah mengambil banyak kursi di kabinet, kasihan yang lain,” ujar Asep Warlan saat dihubungi Suara Karya, kemarin.

Asep mengatakan, memang masuknya Golkar ke Pemerintahan Jokowi akan memperkuat posisi Jokowi, tapi sebaliknya bisa memperlemah koalisi pendukung sebelumnya, yakni Koalisi Merah Putih (KMP). ”Otomatis akan ada pengaruhnya ke KIH,” kata Asep.

Senada dengan Asep, pengamat politik LIPI, R Siti Zuhro mengatakan, masuknya dukungan Golkar kepada Jokowi membuat was-was KIH. Sebab, kata Siti Zuhro, ada kemungkinan kader-kader KIH akan mengalami pengurangan jumlah di kabinet.

”Kita semua tahu, kader-kader Golkar itu kan hebat hebat, Jokowi pasti lebih mempercayai mereka ketimbang yang lain. Artinya, saya membaca kader Golkar memiliki nilai lebih dalam pandangan Jokowi,” kata Siti Zuhro.

Di sisi lain, dengan bergabungnya Golkar, Jokowi juga akan mendapat dukungan yang kuat dari parlemen. Karena jumlah anggota parlemen Golkar cukup signifikan dan memiliki kualitas yang baik.

Namun demikian, Siti Zuhro mnengaku belum bisa menganalisa lebih jauh, karena semua peta politik akan terlihat setelah Munas Golkar atau setelah reshuffle kabinet.

”Kita tunggu aja, apa hasil reshuffle. Yang pasti, Golkar akan mendapat kursi kabinet,” kata Siti Zuhro.

Editor: Syifa NF
Sumber: SK

loading...

COMMENTS