Kesabaran Sang Guru: Makna Reflektif

Agus Wahid

SANG GURU-Kemampuan menahan diri dari emosinya atau bersabar itulah potret sejatinya seseorang yang terkategori kuat. Dan sang guru di manapun dan sampai kapanpun dituntut kemampuannya untuk mengendalikan diri ketika amarah menghampirinya. Makna reflektifnya bukanlah sekedar kematangan jiwa, tapi pengaruhnya sangat kuat bagi anak-anak didik.

 Sebagai fitrah, anak-anak – dengan keberagaman kepribadian atau tingkah laku – kadang membuat sang guru harus menarik nafas dalam-dalam. Ia harus bersabar menghadapi aneka tingkah laku anak-anak didiknya yang kadang nakal atau – setidaknya – keluar dari aturan. Menarik nafas dalam-dalam merupakan relefksi dirinya yang sesungguhnya menahan amarah. Tentu sangatlah tidak enak upaya menahan emosi itu. Tapi, tak ada opsi lain bagi sang guru untuk – sebisa mungkin – harus bersabar menghadapi apapun perilaku nakal atau bandel anak-anak didiknya.

 Sekali lagi, keberhasilan sang guru menahan emosinya merupakan karya psikologis yang demikian berarti (meaningful). Makna reflektif yang perlu kita catat lebih jauh adalah – pertama – anak-anak didik diajarkan model tak langsung tentang menghormati realitas keberagamaan perilaku. Tapi, secara substantif, sang guru sejatinya sedang mengajarkan penyadaran tanpa pemaksaan. Proses tak langsung seperti ini akan menggiring kualitas kesadaran yang jauh lebih prima dibanding ketundukan karena larangan yang bersifat instruktif. Perlu kita garis-bawahi, ketundukan formal (takut) – pada akhirnya – akan tampak semu.

 Kedua, kesadaran intrinsik karena kesabaran sang guru akan mendorong anak-anak didik lebih terpanggil untuk mentaati, minimal menghargai, apa pun yang disampaikan sang guru. Kesadaran seperti ini – tak bisa disangkal buspektrum. Ketiga, kesabaran sang guru akan mendorong anak-anak didik yang nakal atau bandel itu justru lebih malu. Kesadaran seperti ini jelaslah berpotensi besar untuk mengakhiri atau tidak mengulangi perilaku yang dinilai nakal atau bandel itu. Dan keempat, kesabaran sang guru akan membuat anak-anak didik nakal itu merasa tetap dihormati, diakui dan tidak diasingkan. Perasaan seperti ini sungguh bermakna bagi sang anak-anak didik nakal bahwa dirinya masih tetap dipandang sebagai subyek atau – meminjam istilah bahasa Jawa – diewongke (dimanusiakan). Sentuhan kemanusiaan ini sangatlah mendasar maknanya untuk merekonstruksi kesadaran sang anak-anak didik.

 Dengan perlakuan sang guru penyabar itu menjadikan hubungannya dengan anak-anak didiknya seperti tak ada jarak. Harmonis. Anak-anak merasa menemukan sosok “orang tua” sendiri, meski dirinya jauh dari orang tua kandungnya. Bagi lembaga pendidikan yang menerapkan sistem asrama, maka peran sang guru yang seperti orang tuanya sendiri sungguh besar makna psikologisnya dan itu berpengaruh positif bagi proses konsentrasi belajar.

 Dari catatan konstruktif itu, maka kita dapat menggaris-bawahi jika guru tak mampu kendalikan amarahnya jelaslah cukup destruktif pengaruhnya bagi perkembangan mental anak-anak didiknya. Pengaruh itu menampak jelas ketika sang guru – atas nama superioritasnya – memperkihatkan “kekuasaannya” di hadapan anak-anak didiknya seperti memarahi, apalagi melakukan penghukuman secara fisik. Reaksi langsung anak-anak didik yang terkena damprat atau hukuman itu bukanlah sekedar ketidaksukaan atau kebencian terhadap sang guru, tapi – pada akhirnya – berpengaruh negatif terhadap menurunan semangat belajarnya.

 Karena itu, kita dapat mencatat dengan tegas bahwa guru temperamental (tak mampu kendalikan diri dari emosinya) menjadi faktor destruktif bagi kegiatan pejdidikan. Ia harus bertanggung jawab terhadap kemunduran spirit belajar anak-anak, bahkan prtestasi yang menurun itu. Karena itu, atas nama kemanusiaan, keadilan memperoleh hak pendidikan dan hak-hak dasar kemajuan setiap individu, maka sang guru memang haruslah mampu tampil dengan kesabaran purnanya.

 Sebagai manusia biasa, guru punya sifat marah. Namun, profesinya sebagai sang guru menuntut dirinya harus belajar dan belajar terus untuk selalu tampil dengan jiwa penyabarnya. Jika dirinya mengukuti fitrahnya, maka yang menjadi korban bukan semata-mata anak-anak didik yang ada dalam lingkungan kekuasaannya, tapi masa depan bangsa ini. Secara sosiologis, anak-anak didik merupakan generasi penerus yang harus dicetak dengan penuh dedikasi, mental yang terpuji dan kualitas keilmuan yang memadai. Semua ini diproses, di antaranya, melalui lembaga pendidikan. Di sanalah sang guru penyabar berperan besar dalam mengahdirkan potret generasi cemerlang. Tunas-tunas bangsa itu merupakan karya guru yang berhasil mengendalikan diri ketika amarah datang.

 Para guru yang budiman… Di pundak Anda, nasib generasi penerus ini. Akan diarahkan menuju puncak peradaban, atau generasi perusak dan akhirnya menjadi malapetaka bagi bangsa dan negara? Tentu, sebagai insan sehat kita berharap, generasi penerus ini bukan hanya lebih baik, tapi menjadi pemegang kendali negeri yang jauh lebih maju, berbudi-pekerti dan berkembang maju. Itulah sketsa kemajuan yang bahan bakunya antara lain dipoles sang guru penyabar. Karenanya, lebel “pahlawan” untuk sang guru, bukanlah pameo atau lips service semata.

 Itulah makna reflektif sang guru penyabar. Sebuah renungan, jika masih ada guru yang abai dengan persoalan pengendalian amarah, sebaiknya dari sekarang harus menjauhkan diri dari profesi mulia itu. Kasihanilah dan empatilah pada nasib bangsa ini. Jangan sampai jatuh ke jurang kenistaan hanya karena hadirnya kaum guru emosional. Semoga, kaum guru saat ini dan mendatang tetap committed pada cita-cita dan janjinya untuk agenda pencerdasan anak-bangsa. Dan komitmen itu haruslah selalu tertanam sikap mental penyabar.

Oleh: AGUS WAHID
Aktivis TALI Foundation

 

loading...

COMMENTS