Korea Bantu Konsultansi Pembangunan Daerah Aceh Tengah

Anggota DPRA, Bardan Sahidi

PARSIAL | Banda Aceh – Konflik manusia dengan gajah di Kabupaten Bener Meriah, hingga saat ini masih berlanjut, di perkirakan masih terdapat 48 ekor kawanan gajah liar masih berada dikawasan perkebunan dan pemukiman masyarakat di kampung Musara Pakat, Bintang Padi, Gedok, Sesongo, Sosial, Pantan Lah dan Singah Mulo. Pemerintah Aceh diminta untuk dapat menangani konflik manusia dengan gajah di kabupaten Bener Meriah. Hal tersebut diungkapkan Anggota DPRA, Bardan Sahidi, rabu (25/2) saat menerima laporan dari Muspika Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah yang dipimpin oleh camat Pintu Rime Gayo Drs Mukhtar, Kapolsek Iptu Hanafiah, Anggota DPRK Bener Meriah Satriawanto, dan Yayasan Perlindungan Satwa Bener Meriah (YPSBM) Suheri.

“Langkah yang harus segera dilakukan menurutnya dengan melakukan rapat koordinasi dengan empat kabupaten masing – masing dengan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireun, Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Pidie Jaya. Karena diperkirakan kawanan gajah ini masih berada di lokasi keempat kabupaten dimaksud,” jelasnya

Anggota DPRA asal pemilihan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah ini lebih lanjut menambahkan, perlu segera menentukan kawasan konservasi untuk satwa termasuk gajah setelah dilakukan pengiringan ke dalam hutan agar tidak kembali lagi ke permukiman dan perkebunan penduduk.

Selanjutnya, Bardan mengusulkan agar Pemerintah Aceh memfasilitasi buat parit isolasi CRU sepanjang 5000 meter di lima lokasi, dari dukungan dana APBA dan BKSDA Kementerian kehutanan, karena saat ini Pemkab Bener Meriah telah membangun CRU sepanjang 1000 meter.

“Menyelamatkan satwa Gajah dan melindungan penduduk serta kawasan perkebunanan adalah keharusan dari Pemerintah agar konflik manusia dengan gajah secara berkelanjutan dapat diatasi,” demikian Bardan.[acehprov.go.id]

loading...

COMMENTS